• Pertahanan  Sebelum Terjadinya Serangan

Pertahanan Struktural

  • Lapisan lilin pada daun dan buah merupakan senyawa hidrofob yang dapat mencegah patogen
    • o Berkecambah misalnya cendawan
    • o Multiplikasi, untuk bakteri
    • o Migrasi untuk nematoda dan zoospora
  • Lapisan rambut yang lebat pada permukaan tumbuhan juga bersifat hdrofob
  • Kutikula yang tebal dapat mencegah patogen yang melakukan penetrasi langsung
  • Ketebalan dan kekasarah dinding sel epidermis terluar
    • o Menyulitkan atau tidak memungkinkan patogen untuk melakukan penetrasi
    • o Tumbuhan dengan dinding sel epidermis yang tebal dan/atau kasar sering menunjukkan keresistenan terhadap patogen-patogen tertentu

Karakter stomata

  • Stomata yang membuka secara lamabat pada gandum menunjukkan keresistenan terhadap
    • o Banyak bakteri dan patogen lain yang masuk ke dalam tumbuhan hanya melalui stomata
    • o Karat daun pada gandum karena kecambah mengalami kekeringan pada saat stomata sudah membuka
    • Stomata yang sangat sempit
    • Stomata yang elevasi sel-sel penjaganya tinggi resisten terhadap bakteri

Pertahanan kimia sebelum terserang patogen

  • Kenyataan adanya patogen-patogen yang tidak mampu menginfeksi suatu jenis tumbuhan karena adanya senyawa kimia pada tumbuhan yang menggagalkan infeksi
  • Senyawa inhibitor yang dilepas tumbuhan ke lingkungannya
    • o Eksudat fungitoksik pada daun yang dapat menghambat perkecambahan spora

▫  Botrytis pada tomat

▫  Cercospora pada bit gula

▫  Colletotrichum circinans pada bawang

  • Inhibitor yang terdapat di dalam sel-sel tumbhan sebelum infeksi  yang biasa terdapat di dalam sel-sel buah dan biji yang masih muda yang dapat menghambat kerja enzim patogen
    • o Beberapa senyawa fenolik
    • o Tanin
    • o Dienes (senyawa mirip asam lemak)

Pertahanan Karena Ketiadaan Faktor-Faktor Esensial

  • Ketiadaan senyawa yang dikenal patogen sehingga patogen tidak mapu mementuk senyawa atau struktur untu infeksi seperti
    • Enzim
    • Apresoria
    • Pasak penetrsi
    • Haustoria
    • Hifopodium

Ketiadaan reseptor dan tempat sensitif pada inang bagi toksin patogen

  • Rhizoctonia memerlukan suatu senyawa untuk membentuk bantalan hifa dalam proses penetrsi. Ketiadaan senyawa tersebut dapat menggagalkan infeksi
  • Venturia inaequalis mutan tertentu penyebab scab (kudis) pada apel kehilangan daya infeksi karena ketiadaan faktor tumbuh. Namun bila daun diseprit dengan faktor tumbuh tersebut maka infeksi dapat terjadi
  • Bakteri soft rot (E. carotivora var. atroseptica) serangannya tidak berat pada kentang yang konsentrasi gula  reduksinya rendah  dibanding kentang yang konsentrsi gula reduksinya tinggi
  • Pertahanan Struktural dan Biokimia Terinduksi oleh Patogen

Pengenalan tumbuhan terhadap adanya patogen dalam Pertahanan

  • Tumbuhan menerima sinal adanya senyawa yang disekresikan patogen, kemudan akan memobilisasi sistem pertahanan
    • Biokimia atau
    • Struktural
    • Untuk melindungi diri dari infeksi patogen lebih lanjut

Pertahanan Struktural Terinduksi

  • § Pertahanan sitoplsmik
    • Armillaria strain patogenik lemah dan cendawan simbion mikoriza yang menginduksi penyakit kronis atau simbiosis mutualisme

▫      Sitoplasma sel mengelilingi kumpulan hifa

▫      Nukleus sel melunak pada bagian tersebut kemudian pecah menjadi dua

  • Dalam beberapa sel reaksi sitoplasmik

▫      Terjadi menghilangnya protoplasma saat pertumbuhan cendwan meningkat

▫      Namun dalam beberapa sel terserang

  • sitoplasma dan nukleus membesar
  • sitoplasma menjadi granulair dan memadat
  • berbagai partikel atau struktur muncul di dalamnya
  • akhirnya miselium patogen mengalami disintegrasi dan invasinya terhenti
  • § Pertahanan Struktur Dinding  Sel
    • Perubahan morfologi dinding sel yang terserang patogen
    • Namun keefektifan struktur ini sebagai mekanisme ketahanan agak terbatas
    • Tiga tipe struktur utama pada penyakit tumbuhan

▫   Lapisan terluar dinding sel-sel parenkim bila kontak dengan bakteri yang inkompatibel

  • Membengkak dan memproduksi bahan-bahan fibrilar amorf yang menyelimuti dan memblokir serta mencegah bakteri berbiak
  • Dinding sel menebal sebagai respon terhadap sejumlah patogen dengan pembentukan bahan berselulosa yang sering berisi senyawa fenolik
  • Terbentuknya paipil kalus pada bagian sisi dalam dinding sel sebagai respons serangan cendawan patogen
  • § Struktur Pertahanan Histologi
  • Pembentukan lapisan gabus pada titik serangan beberapa jenis patogen seperti

▫      Bakteri

▫      Kadangkala virus

▫      Nematoda

▫      (Gambar 5-4; 5-5)

  • Pembentukan lapisan absisi (gugur atau shot hole) pada daun dan buah setelah terinfeksi oleh sejumlah patogen seperti

▫      Bakteri

▫      Virus

▫      Cendawan

▫      (Ganmbar 12-15)

  • Pembentukan tilosis (tyloses)

▫  Dibentuk dalam pembuluh silem sebagai respons terhadap kondisi stres atau invasi patogen

  • · Merupakan pertumbuhan yang berlebihan dari protoplasma di dekat sel-sel parenkim hidup yang menonjol ke dalam liang pembuluh silem (Gambar 5-7)
  • Deposisi gum (blendok)

▫      Merupakan barier yang tidak dapat dipenetrsa dan mengisolasi patogen di dalamnya umum terjadi pada

  • Pohon buah batu
  • Tanaman lainnya

  • Reaksi Pertahanan Nekrotik (Hipersensitif)
    • Lebih merupakan mekanisme pertahanan biokimia bukan mekanisme pertahanan struktural
    • Dianggap sebagai pertahanan struktural karena respons sejumlah sel yang terlihat jelas
    • Dapat mencegah menyebar luasnya serangan patogen (parasit obligat)

▫      Virus

▫      Cendawan

▫      Bakteri

▫      Nematoda

▫      (Gambar 5-8)

Pertahanan Biokimia Terinduksi

  • Respons hipersensitif (HR) merupakan suatu induksi kematian sel-sel secara lokal pada titik infeksi patogen (Gambar 5-9)
  • Gejala hipersensitif

▫      Dapat dilihat bila terjadi pada banyak sel

▫      Tidak dapat dilihat bila hanya terjadi pada satu-beberapa sel

  • Peningkatan ketahanan dinding sel dengan memperkuat molekul-molekul

▫      Dinding sel tumbuhan yang kontak dengan patogen (cendawan)

  • Dapat memproduksi beberapa senyawa pertahanan yang terakumulasi
  • Dapat meningkatkan kekuatan dinding sel terhadap invasi cendawan
  • Protein-protein yang Berhubungan dengan Patogenisitas

▫      Kelompok protein struktural yang toksik terhadap patogen

▫      Terdistribusi dalam jaringan tumbuhan dalam jumlah sanagat sedikit

▫      Diproduksi dalam konsentrasi tinggi bila terjadi serangan patogen atau stres lingkungan

▫      Terdapat secara inter dan intraselulair

  • Fitoaleksin

▫      Merupakan senyawa toksik anti mikroorganisme yang diproduksi  karena adanya

  • Serangan mikroorganisme patogen
  • Kerusakan mekanik
  • Gangguan bahan kimia
  • Dalam konsentrasi yang cukup dapat menekan perkembangan patogen
  • Senyawa fenol sederhana

▫      Diprduksi dan terakumulasi secara cepat setelah terjadinya infeksi terutama pada varietas tumbuhan resisten

▫      Contoh

  • Chlorogenic acid
  • Caffeic acid
  • Ferulic acid
  • Imunisasi Tumbuhan terhadap Patogen

Pertahanan melalui plantibodi

  • Manusia dan hewan memilki pertahanan terhadap patogen  yang dapat diaktifkan dengan imunisasi baik secara
    • o Alamiah maupun
    • o Buatan
    • Dengan cara
      • o Infeksi subminimal patogen secara alamiah
      • o Injeksi artifisial dengan protein patogen atau senyawa antigen lainnya
      • Di dalam tubuh manusia/hewan selanjutnya akan diproduksi
        • o Senyawa-senyawa antibodi yang dapat menekan patogen
        • o Yang memproteksi manusia/hewan dari patogen tartentu dalam jangka waktu lama (imunitas)
  • Pada Tumbuhan
    • o Tidak memiliki sistem imun seperti pada manusia/hewan
    • o Tidak mampu memproduksi antibodi
    • o Namun pada awal 1990-an dengan berhasil dirakinya tumbuhan transgenik

▫   Dengan memasukkan gen tikus yang mampu memproduksi antibodi

▫   Tumbuhan transgenik  bersangkutan dapat membentuk antibodi yang dapat melawan patogen-patogen tertentu

▫   Antibodi semacam ini disebut plantibodies (plantibodi)

Induksi Pertahanan Tumbuhan Secara Buatan degan Inokulasi Mikroorganisme satau Perlakuan Bahan Kimia

  • Local Acquired Resistance (LAR)
    • o Induksi resistensi pertamakali terjadi secara lokal di titik nekrosis tumbuhan karena

▫   Serangan patogen atau

▫   Senyawa kimia

  • Systemic Acquired Resistance (SAR)
    • o Bila resistensi menyebar secara sistemik dan berkembang di tempat-tempat yang tidak terinfeksi atau tidak mendapat perlakuan
  • Senyawa-senyawa kimia yang dapat menginduksi resistensi tumbuhan terhadap patogen
    • o Yang dapat menginduksi LAR san SAR pada tumbuhan tanpa menyebabkan nekrosis

▫   Salicylic acid

▫   Arachidonic acid

▫   2,6-dicholroisonicotinic acid

  • Patogen-patogen yang dapat menginduksi resistensi
  • o Induksi LAR

▫   TMV pada varietas tembakau yang hipersensitif taerhadap patogen terebut

  • o Induksi SAR

▫   Tanamanm  timun muda yang terinfeksi secara lokal oleh

  • Colletotrichum lagenarium
  • Pseudomonas lachrymans
  • Tobacco Necrisis Virus
  • Dalam beberapa hari menunjukkan SAR terhadap paling sedikit 13 macam penyakit yang disebabkan oleh
    • Cendawan
    • Bakteri
    • Virus

Padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dalam budi-dayanya sering dijumpai ber-bagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan peme-rintah sampai harga jual yang rendah. Adanya serangan hama dan penyakit seperti wereng coklat maupun  tungro masih menjadi kendala utama bagi petani. Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi dua serangan ini.  Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasi-onal.  Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penu-runan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam me-ngendalikannya.  Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengendalikan kedua musuh ini

Gejala Serangan

Pada padi yang terserang wereng coklat terlihat helaian daun padi yang paling tua berangsur-angsur berwarna kuning.   Bila hal itu dibiarkan akan ditandai dengan adanya massa berupa jamur jelaga. Serangan wereng coklat dengan tingkat populasi yang tinggi akan menyebabkan warna daun dan batang tanaman menjadi kuning kemudian berubah menjadi coklat dan akhirnya seluruh tanaman menjadi kering seperti terbakar. Berkembangnya serangan wereng coklat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (1) wereng coklat adalah serangga yang mampu berkembang biak dengan cepat dimana dalam masa reproduksinya, satu buah induk betina wereng coklat mampu menghasilkan 100-600 butir telur. Dengan daya sebar yang cepat dan ganas serta kemampuan menemukan sumber makanan, membuat serangan wereng coklat ini semakin meluas. (2) penanaman varietas padi yang peka/tidak tahan terhadap wereng coklat, kemudian (3)   adanya pola tanam yang tidak teratur dan (4) penggunaan pestisida yang kurang tepat sehingga tidak efektif dalam membasmi wereng coklat tersebut.

Berbeda dengan serangan hama wereng coklat, serangan penyakit tungro ini disebabkan oleh virus. Penyebaran serangan penyakit ini sangat cepat karena dibantu oleh vektor  (serangga penular) yaitu we-reng hijau (Nephotettix virescens dan N. nigropictus).  Adapun gejala / tanda kerusakan yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah : Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak. Daun  padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam.  Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan.  Seperti halnya wereng coklat, penyebaran penyakit ini juga sangat cepat. Cepatnya perkem-bangan penyakit tungro disebabkan antara lain oleh : (1) cepatnya perkembangan serangga penular  (wereng hijau),(2) masih dilakukannya penanaman bibit padi yang tidak diketahui asal usul dan kesehatannya, terutama dari daerah endemis tungro, (3) adanya penanaman varietas tidak  tahan tungro yang didu-kung pola tanam tidak teratur, dan (4) para petani masih enggan melakukan pemusnahan (eradikasi) pada tanaman yang terkena serangan tungro akibatnya tanam padi sehat yang lain ikut terkena penyakit ini.

Penyebaran dan Siklus Hidup

Pengendalian hama wereng coklat dan penyakit tungro ini akan lebih efektif bila kita mengetahui bagaimana gejala, sistem penularan dan siklus hidup serangga penyebar penyakit itu.  Penularan penyakit tung-ro pada padi bersumber dari singgang (sisa tanaman padi setelah dipanen) dan rumput-rumput yang berada di sekitar tanaman padi.  Virus tungro ini dibawa oleh wereng hijau dengan menghisap tanaman sakit dan me-nyebarkannya melalui jaringan tanaman padi. Penularan penyakit oleh wereng hijau ini berlangsung secara non persisten, yaitu segera terjadi dalam waktu 2 jam setelah menghisap tanaman, dan menimbulkan tanda serangan setelah  6 – 9 hari kemudian.  Selain wereng hijau dewasa, nimfa (larva) dari serangga ini pun dapat menularkan virus tungro.  Virus ini tidak dapat ditularkan melalui : telur wereng hijau, biji padi, atau gesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit.  Berdasarkan hal itu, maka bila kita ingin mengendalikan penyakit akibat virus ini, maka yang perlu kita kendalikan adalah faktor penyebarnya yaitu wereng hijau, tanaman yang sakit dan singgang-singgang sebagai sumber penyakit.

Dalam siklus hidupnya wereng coklat terbagi kedalam 3 fase yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa.  Wereng coklat betina meletakkan telur-telurnya di dalam pelepah dan tulang daun.  Setelah 7-9 hari kemudian telur-telur tersebut menetas dan menjadi nimfa.  Pada fase nimfa inilah serangga wereng coklat berbahaya karena pada fase ini nimfa-nimfa bersaing untuk men-dapatkan sumber makanan agar bisa tumbuh menjadi serangga dewasa. Dalam menunjang perkembangannya menjadi dewasa itulah nimfa ini kemudian merusak tanaman dengan cara memakan dan menghisap cairan yang ada dalam tanaman padi.  Nimfa ini sendiri terbagi ke dalam 5 instar sesuai warnanya.  Instar  pertama ber-warna putih dan selanjutnya berubah menjadi warna coklat.  Pada umur 13-15 hari, nimfa sudah berkembang menjadi serangga dewasa. Wereng cok-lat mempunyai keistimewaan yaitu mampu membentuk biotipe baru. Pembentukan biotipe ini terjadi bila terjadi pergantian varietas padi yang tahan wereng.  Penggunaan perstisida yang kurang benar akan menimbulkan biotipe baru yang menyebabkan wereng tersebut semakin kebal ter-hadap insektisida yang diberikan.

Langkah Pengendalian

Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan mencegah penyebaran dan perkembangbiakan hama tersebut.  Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah ;

Pertama yaitu melakukan pemantauan secara rutin dan terjadwal yang dilakukan dengan cara mengamati areal tanaman padi dalam interval waktu tertentu (misalnya seminggu sekali), sejak awal persemaian, penanaman sampai panen.  Pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan populasi wereng coklat di tiap lokasi sehingga dapat dijadikan pedoman apakah perlu dilakukan tindakan pengendalian atau tidak.  Semakin tinggi kepadatan populasi wereng coklat, semakin cepat kita harus melakukan tindakan pengendalian.  Adapun pedoman untuk menetapkan gejala serangan wereng dengan menggunakan 3 kunci pendugaan.  Yaitu tipe A, B dan C. Pendugaan tipe A ini terjadi pada saat persemaian.  Kerusakan dianggap berat bila pada saat umur  30 hari terdapat 50 ekor betina makrop per 25 kali ayunan jaring.  Pada tipe B, fase ini terjadi saat padi berumur 20 – 30 HST.  Tingkat serangan dianggap merugikan bila ditemukan 2 – 5 ekor betina dalam satu rumpun.  Tipe C yaitu pada saat padi berumur 20 – 30 HST dan 50 – 60 HST.  Kerusakan dianggap berat bila ditemukan 2 – 5 ekor betina berakhip dalam 1 rumpun padi.  Pemantauan ini sebaiknya dilakukan  bersamasama dalam satu kelompok tani dan hasilnya dibahas untuk menentukan langkah pengendaliannya.
Wereng Coklat yang Menyerang pada Tanaman padi. Inzet : Bentuk Morfologis Wereng coklat

Kedua adalah memusnahkan singgang (sisa tanaman) yang terserang virus kerdil rumput dan kerdil hampa dengan cara mengolah tanah sesegera mungkin setelah tanaman padi dipanen.  Dengan kita membiarkan lahan tersebut, maka kemungkinann timbulnya serangan virus akan lebih besar saat kita memulai penanaman kembali.

Ketiga adalah menanam padi varietas unggul tahan hama. Penanaman varietas tahan hama terbukti mampu dan efektif mengurangi serangan wereng coklat.  Penggunaan bibit padi yang merupakan  keturunan dari benih asli/bersertifikat akan membuat tanaman menjadi lebih peka/rentan terhadap serangan hama, sehingga disarankan untuk selalu menggunakan benih F-1-nya.  Saat ini ada sekitar 17 varietas yang tergolong tahan wereng diantaranya : Cisadane, IR-50, Krueng Aceh, Sadang, Cisokan, Cisang-garung, IR-64, Dodokan, IR-66, Way Seputih, Walanae, Membramo, Cilo-asri, Digul, Maros, Cirata dan Way Opo Buru.  Namun , perlu diketahui pula bahwa diantara verietas tersebut, ada beberapa varietas diantaranya yang rentan terhadap biotipe wereng tertentu diantaranya : Cisadane, Krueng Aceh, Sadang dan Cisokan, yang hampir semuanya meskipun tahan wereng biotipe B2, namun agak rentan terhadap B1 dan rentan terhadap biotipe B3.

Keempat yaitu melakukan pemusnahan selektif terhadap tanaman padi yang terserang ringan.  Artinya memilih tanaman padi yang terserang dengan cara mengambilnya untuk kemudian dibuang/dibakar di tempat lain.  Bila terjadi serangan berat, maka perlu dilakukan pemusnahan (eradikasi) total.

Kelima yaitu melakukan penyemprotan dengan insktisida anjuran seperti Winder 25WP  bila populasiwereng coklat telah mencapai batas-batas : populasi wereng mencapai lebih dari 10 ekor per rumpun saat padi berumur kurang dari 40 HST dan populasi wereng mencapai lebih dari 40 ekor per rumpun saat tanaman padi berumur lebih dari 40 HST.

Keenam yaitu ada saat melakukan penyemprotan sebaiknya dimulai dengan membuka (“membiak”) antara barisan tanaman, kemudian menyemprot tanaman dengan mengarahkan semprotan ke bagian batang bawah.  Hal ini dilakukan karena biasanya wereng coklat berada di bagian batang bawah.

Untuk pengendalian penyakit tungro dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

Pertama adalah mengatur pola tanam pada areal padi dengan melakukan pergiliran tanamn bukan padi untuk memutus siklus hidup wereng hijau dan meniadakan sumber penyakitnya.

Kedua adalah melakukan pengolahan tanah sesegera mungkin setelah pemanenan.  Hal ini dimaksudkan untuk memusnahkan singgang tanaman padi sebagai inang vektor.

Ketiga adalah menanam varietas tahan penyakit tungo.  Saat ini ada beberapa varietas padi yang tahan terhadap serangan tungro diantaranya : IR-50, IR-64, Citanduy, Dodokan, IR –66, IR-70, Barumun, kelara, memberamo, IR-36, IR-42, Semeru, Ciliwung , Kr. Aceh, Sadang, Cisokan, Bengawan , Citarum dan terakhir adalah serayu.   Pengendalian akan lebih efektif bila dilakukan pergiliran varietas setiap menanam padi.

Keempat adalah mengupayakan penanaman secara serempak dalam satu hamparan.

Kelima yaitu melakukan pemantauan secara terjadwal sejak awal dimulai di singang-singgang sehabis panen, dilanjutkan pada persemaian dan tanaman muda (saat tanaman kritis umur 2-6 minggu setelah tanam), khususnya di daerah endermis tungro.  Hasil pengamatan dibahas dalam kelompok  guna menentukan gerakan pengendalian.

Keenam yaitu pada saat persemaian benih disebar paling cepat 5 hari setelah pengolahan tanah, mengingat virus tungro yang ada di singgang dan tubuh wereng hijau telah hilang setelah periode waktu tersebut.  Kemudian pada daerah kronis tungro sebelum melakukan penyebaran benih sebaiknya tanah diberi insktisida bahan aktif carbofuran sebanyak 4 kg/500 m2 dengan cara dibenamkan bersamaan dengan pengolahan tanah. Bibit sebaiknya tidak menggunakan dari daerah yang terdapat serangan tungro.  Bibit yang terinfeksi tungro harus dicabut dan kemudian dimusnahkan dengan cara dibenamkan ke dalam tanah. Kemudian melakukan penyemprotan  dengan insektisida anjuran bila populasi vektor (wereng hijau) mencapai 20 ekor per 25 ayunan jaring.

Ketujuh yaitu pengendalian saat tanaman muda. Pengendalian dilakukan dengan mengatur saat tanam sedemikian rupa agar saat populasi wereng hijau tinggi, tanaman padi sudah berumur lebih 60 HST.  Selain itu dilakukan eradikasi selektif secara kesinambungan dan melakukan penyemprotan insktisida anjuran bila populasi wereng hijau minimal 3 ekor per 25 ayunan jaring.

v  Terong

Tanaman terong pada saat itu masih dalam fase vegetatif, sehingga belum terlalu banyak hama yang ditemukan. Hanya terdapat beberapa hama saja, seperti:

  1. Chrysomelidae (Ordo: Coleoptera)

Tubuh kumbang berbentuk kubah dan berwarna hitam mengkilap dengan bagian kepala dan tepi sayap depan berwarna kecoklatan. Kumbang dewasa aktif pada pagi dan sore hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di celah-celah tanah. Kumbang dewasa makan daun, pucuk tanaman, bunga, dan menyebabkab nekrotik pada daun.

  1. Kutu Daun (Aphididae; Coleoptera)

Tubuh kutu daun ini berukuran sangat kecil, lunak dan berwarna hijau agak kekuning-kuningan. Serangga ini menyukai bagian-bagian muda dari tanaman inangnya. Serangan pada pucuk tanaman muda menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Hama ini juga bertindak sebagai vektor (serangga penular) berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus.

  1. Wereng Hijau

Wereng Hijau ini dapat merusak tanaman dengan jalan menghisap atau biasa dikenal dengan gejala nekrotik. Wereng betina meletakkan telur pada jaringan daun muda. Biasanya telur diletakkan berkelompok antara 8-16butir dan banyaknya bisa mencapai 200-300butir, bergantung pada lingkungan dan spesiesnya. Telur menetas 6-7hari. Nimfa mengalami 5instar dan lamanya stadium nimfa 16-18hari. Nimfa dan dewasa menghisap cairan cairan makanan dari jaringan xylem pada helai daun. Stadium nimfa dapat juga merupakan vector penyakit virus.

  1. Telur Lepidoptera

Pada tanaman terong ditemukan telur Lepidoptera, namun belum diketahui identitas dari telur tersebut karena disekitar tanaman tidak ditemukan tanda-tanda/gejala dari ordo Lepidoptera tersebut.

  1. Liriomyza

Invasi Liriomyza spp. ke dalam ekosistem sayuran di Indonesia telah menambah beban ekonomi para petani kentang khusunya dan petani sayuran umumnya. Pada awalnya Liriomyza spp. bukan hama penting karena populasinya sealalu dapat dikendalikan oleh musuh alaminya. Namun pada awal tahun 1970-an lalat ini berubah menjadi sangat merugikan akibat musuh alaminya banyak terbunuh oleh insektisida. Di Indonesia hama ini pertama kali ditemukan tahun 1994 di daerah Cisarua Bogor.  Liriomyza spp menyebabkan kerusakan dengan cara menggorok daun. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 75% pada beberapa tanaman.

v  Bawang Daun

  1. Larva Spodoptera exigua

Serangga dewasa berupa ngengat abu-abu, meletakkan telur pada daun secara berkelompok.  Setiap kelompok telur dari 30-700butir yang ditutupi oleh bulu-bulu berwarna merah kecoklatan. Telur akan menetas setelah 3hari. Ulat yang baru keluar dari telur berkelompok di permukaan daun dan makan epidermis daun atau biasa dikenal dengan gejala gerigitan.

  1. Kepinding Tanah (Pentatomidae; Hemiptera)

Serangga ini menyukai tempat lembab dan menjadi tidak aktif pada cuaca kering/panas atau cuaca dingin. Serangga dewasa makan daun atau seludang daun. Pada tanaman yang lebih tua, kepinding tanah makan seludang daun dekat pangkal batang. Telurnya berderet-deret dalam 2-4 baris pada permukaan daun, atau pada seludang dan pada rumput-rumput. Telur yang baru keluar berwarna bersih, tetapi kemudian berubah menjadi jingga pada waktunya menetas, yaitu 6 hari kemudian. Serangga muda yang baru ditetaskan mula-mula makan daun dekat telur dan kemudian pindah ke pangkal batang. Itik suka makan kerpinding tanah, karena itu itik dapat mengurangi populasi kepinding tanah.

v  Padi

Pada tanaman padi banyak sekali ditemukan hama karena terdapat 2lahan yaitu fase vegetative dan fase generatif. Sehingga dapat dibedakan hama yang menyerang pada fase tersebut.

  1. Wereng Hijau

Peran wereng hijau (green leafhopper) dalam system pertanaman padi menjadi penting oleh karena wereng hijau merupakan vektor penyakit tungro, yang merupakan salah satu penyakit virus terpenting di Indonesia. Kemampuan wereng hijau sebagai penghambat dalam sistem pertanian pada padi sangat tergantung pada penyakit virus tungro. Sebagai hama, wereng hijau banyak ditemukan pada system sawah irigasi teknis, ekosistem tadah hujan, tetapi tidak lazim pada ekosistem padi gogo. Wereng hijau menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir, tidak meyukai pelepah, ataupun daun-daun bagian tengah. Wereng hijau menyebabkan daun-daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye, penurunan jumlah anakan, dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek). Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi sangat memicu perkembangan wereng hijau.

  1. Pelipat Daun/Hama Putih Palsu

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan  mencapai >50%. Kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Pada mulanya larva tidak menyebabkan daun menjadi terlipat atau tergulung, tetapi bila larva tumbuh menjadi besar pinggiran daun yang satu dihubungkan dengan yang lain sehingga membentuk sebuah tabung. Larva tersebut makan seluruh bagian dalam daun yang menggulung, kecuali kulit luar sehingga menyebabkan goresan-goresan putih yang khas. Kepompong terjadi di dalam gulungan daun dan kepompong ini terbungkus oleh tenunan seperti sutra. Penyakit-penyakit daun terutama penyakit bakteri daun bergaris sering ditemui dimulai dari pinggiran yang rusak karena penggulung atau pelipat daun. Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki 3buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga. Untuk mengendalikan hama putih palsu:

  • Upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam
  • Pergunakan insektisida (bila diperlukan) berbahan aktif fipronil atau karbofuran
  • Jangan menggunakan insektisida sampai tanaman berumur 30hari setelah tanam pindah atau 40hari sesudah sebar benih
  • Tanaman padi yang terserang pada fase ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.
  1. Wereng Coklat

Penggerek batang (wereng coklat) termasuk hama paling penting pada tanaman padi yang sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Hama ini dapat merusak pada semua fase tumbuh, baik pada saat pembibitan, fase anakan, maupun fase berbunga. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep dan jika terjadi pada saat berbunga disebut beluk. Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang. Oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai, terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat, merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman pada bulan Desember-Januari, karena suhu, kelembaban dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam, sangat sensitif terhadap hama ini.

  1. Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai masak susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa. Hama ini dapat dikendalikan melalui beberapa langkah, yaitu:

  • Mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada disekitar pertanaman
  • Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam
  • Menangkap walang sangit dengan menggunakan jarring sebelum stadia pembungaan
  • Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam
  • Menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.
  1. Telur Keong Mas

Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman. Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang. Waktu kritis untuk mengendalikan keong mas adalah pada saat 10hari setelah tanam pindah, atau 21hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar daripada laju kerusakan oleh keong mas. Bila terjadi invasi keong mas, sawah perlu segera dikeringkan, karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air.

v  Jambu Biji

  1. Ulat Penggulung Daun

Ulat ini membentuk gulungan daun dengan merekatkan daun yang satu dengan yang lainnya dari sisi dalam dengan zat perekat yang dihasilkannya. Di dalam gulungan, ulat memakan daun, sehingga akhirnya tinggal tulang daunnya saja yang tersisa. Serangan hama ini terlihat dengan daun-daun yang tergulung menjadi satu. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang berwarna coklat hitam.

TUJUAN

Tujuan Praktikum kali ini adalah untuk melihat dan mengetahui pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran.

PENDAHULUAN

Membran plasma merupakan batas kehidupan, batas yang memisahkan sel hidup dari sekelilingnya yang mati. Berdasarkan dari komposisi kimia membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Tiga macam lipida polar yang utama adalah fosfolipida, glukolipida dan sedikit sulfolipida. Pada lipida polar, asam lemak yang hidrofobik berorientasi ke bagian dalam membran. Variasi antara panjang dan tingkat ketidakjenuhan (jumlah ikatan rangkap) dari rantai asam lemak berpengaruh terhadap titik cair. Membran sel terdiri atas dua lapis molekul fosfolipid. Bagian ekor dengan asam lemak yang bersifat hidrofobik (non polar), kedua lapis molekul tersebut saling berorientasi kedalam, sedangkan bagian kepala bersifat hidrofilik (polar), mengarah ke lingkungan yang berair.  (Anonimous, 2008). Pada membran terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. (Prawiranata, 1981).

Membran plasma memiliki permeabilitas selektif, yakni membran ini memungkinkan beberapa substansi dapat melintasinya dengannya lebih mudah dari pada substansi yang lainnya. Kemampuan sel untuk membedakan pertukaran kimiawinya ini dengan lingkungannya merupakan hal yang  mendasar bagi kehidupan, dan membran plasma inilah yang membuat keselektifan ini bisa terjadi. (Campbell, dkk, 2002). Adanya sifat hidrofobik di bagian tengah lapisan lipid membran plasma menyebabkan membran tersebut tidak mudah ditembus oleh molekul polar, sehingga membran sel mencegah keluarnya komponen-komponen dalam sel yang larut dalam air. Namun, sel juga memerlukan bahan-bahan nutrisi dan membuang limbahnya ke luar sel. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sel harus mengembangkan suatu sistem/mekanisme khusus untuk transpor melintasi membran sel. (Subowo, 1995).

HASIL PENGAMATAN :

Dari percobaan yang telah kami lakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Perlakuan Fisik ( panas dan dingin):

Perlakuan Nilai Absorban (525) Tingkat kepekatan
65°C 0.411 A +++
60°C 0.237 A ++
50°C 0.200 A ++
45°C 0.175 A +
Beku 3.310 A +++++
Kontrol 0.188 A +

Grafik hubungan antara perlakuan panas dan absorban :

Tabel 2. Perlakuan Kimia

Perlakuan Nilai Absorban (525) Tingkat Kepekatan
Benzen 0.004 A —–
Aseton 0.194 A ++
Methanol 1.258 A ++++
Kontrol 0.188 A +

PEMBAHASAN :

Suatu membran sel eukariotik tersusun atas protein dan lipida. Membran bukanlah lembaran molekul statis yang terikat kuat di tempatnya. Membran ditahan bersama terutama oleh interaksi hidrofobik, yang jauh lebih lemah dari ikatan kovalen. Sebgain besar lipid dan sebagian protein dapat berpindah secara acak dalam bidang membrannya. Akan tetapi, jarang terjadi suatu molekul bertukar tempat secara melintang melintasi membran, yang beralih dari satu lapisan fosfolipid

ke lapisan yang lainnya. Untuk melakukan hal seperti itu, bagian hidrofilik molekul tersebut harus melewati inti hidrofobik membranya. Membran haruslah bersifat fluida agar dapat bekerja dengan baik, membran itu biasanya sekental minyak salad. Apabila membran membeku, permeabilitasnya berubah, dan protein enzimatik di dalamnya mungkin menjadi inaktif. (Campbell, dkk, 2002).

Dari tabel di atas diketahui bahwa perbedaan perlakuan dari bit gula akan memberikan hasil absorbansi yang berbeda pula.Berdasarkan tabel satu (1),perlakuan fisik yaitu perlakuan panas dan dingin, secara berturut- turut nilai absorbansi dari masing-masing perlakuan adalah pada suhu 65oC sebesar 0.411 A, suhu 60oC sebesar 0.237 A, suhu 50oC sebesar 0.2 A, dan pada suhu 45oC sebesar 0.175 A. Sedangkan pada kontrol dan perlakuan beku berturut-turut sebesar  0.188 A dan 3.310 A.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa pada perlakuan fisik dalam kodisi panas, semakin tinggi suhu maka nilai absorbansi akan ikut naik, namun untuk perlakuan dingin ternyata memperoleh nilai absorbansi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan panas. Pada perlakuan panas, semakin tinggi suhu, menyebabkan membran semakin rusak akibatnya semakin banyak pula isi sel yang ke luar. Seperti diketahui bahwa komponen membran tersusun atas lipid dan protein. Jika suhunya terlalu tinggi, protein akan mengalami denaturasi kemudian meyebabkan isi di dalam sel ke luar. Sedangkan pada perlakuan dingin(beku) terbentuk kristal-kristal pada membran sel, sehingga terjadi kerusakan yang sangat parah dan pigmen yang keluar semakin banyak. Hal inilah yang menyebabkan pada perlakuan dingin memiliki nilai absorbansi yang lebih besar. Pada umumnya membran tidak tahan terhadap suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Sedangkan pada perlakuan kimia dihasilkan nilai masing-masing perlakuan sebagai berikut, benzen absorbansinya sebesar 0.004 A, aseton absorbansinya sebesar  0.194 A, sedangkan pada methanol nilai absorbansinya sebesar  1.258 A. Hasil tersebut menunjukkan bahwa methanol mampu merusak membran sehingga pigmen yang keluar lebih banyk jika dibandingkan zat kimia yang lainnya, namun pada bit gula yang telah melalui perendaman selaman 1 jam dalam asseton, bit gula menjadi mengerut dan menyusut hal ini disebabkan karena sel mengalami difusi ke luar sel. Terjadinya difusi dari dalam ke luar sel ini disebabkan karena membran sel mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Kerusakan ini disebabkan karena membran sel tidak tahan terhadap aseton. (Gambar terlampir).

SIMPULAN

Dari hasil percobaan yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Membran sel akan mengalami kerusakan jika diberikan perlakuan suhu yang ekstrim. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka kerusakan pada membran akan semakin parah karena membran sel tidak tahan terhadap keadaan yang terlalu panas ataupun terlalu dingin.
  1. Pengaruh permeabilitas membran berbeda-beda untuk setiap perlakuan panas, perlakuan dingin, dan perlakuan dengan senyawa kimia
  1. Zat terlarut ada yang dapat melewati membran, dan ada yang tidak tergantung dari sifat membran yang dilaluinya.

DAFTAR PUSTAKA

Yatim, W. 2000. Embriologi. Semarang : CV. Tarsito.

Prawinata, W. 1981. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : ITB.

Campbell, dkk. 2002 Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Subowo. 1995. Biologi Sel. Bandung : Angkasa.

Anonimous. 2008. Membran Plasma. http://ms.wikipedia.org/wiki/Membranplasma. 06 Februari 2008.

Anonimous. 2008. Permeabilitas. http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/prak_biologi. 07 Maret 2008.

JAWABAN PERTANYAAN :

  1. Perlakuan panas terhadap permeabilitas membran mengakibatkan kerusakan protein jika suhu lebih dari 60oC  yang juga akan mengakibatkan kerusakan dinding sel sehingga dapat mengeluarkan pigmen lebih banyak akibat dari denaturasi pada protein,.
  1. Perlakuan pembekuan permeabilitas mengakibatkan kerusakan fosfolipid dan protein yang membentuk kristal tajam yang dapat merusak dinding sel sehingga mengeluarkan pigmen lebih banyak daripada perlakuan panas.
  1. Hubungan pengaruh senyawa-senyawa organik dengan susunan kimia membran adalah membran sel terdiri dari protein dan fospolipid yang peka terhadap senyawa organik seperti aseton, benzen, dan methanol. Untuk larutan yang polar ( methanol ) dapat larut dalam air, sehingga dapat melarutkan protein dan hanya lipid yang tersisa. Oleh karena itu akan timbul celah-celah dari lipid tersebut yang memiliki daya tembus yang besar. Sedangkan untuk larutan yang non polar ( benzen dan aseton),  merupakan larutan organik yang dapat melarutkan protein dan lipid sekaligus, sehingga merusak struktur membran dan cairan akan keluar tanpa ada yang meghalangi dan laju cairan dari luar sel akan masuk tanpa ada penghalang.
  1. Hubungan sifat-sifat molekul hidrofilik dan hidrofobik dengan permeabilitas membran adalah : molekul hidrofilik merupan molekul yang suka terhadap air dan bersifat polar sehingga dalam hal ini adalah methanol dan aquades serta molekul-molekul lain yang tidak bermuatan akan akan lebih mudah masuk ke dalam sel melalui membran. Sedangkan molekul hidrofobik adalah molekul yang tidak suka air dan bersifat non polar  dalam hal ini adalah aseton dan benzen sehingga sukar melewati membran. Sifat molekul hidrofilik dan hidrofobik sangat berpengaruh dalam permeabilitas membran sehingga membran bersifat lebih selektif . Molekul hidrofilik dan hidrofobik berfungsi sebagai gerbang dan sebagai pompa .

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Latar Belakang

Pembangunan yang merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan taraf hidup manusia, tidak terlepas dari pemanfaatan aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam. Perubahan-perubahan yang dilakukan tentunya akan memberikan pengaruh kepada lingkungan hidup. Makin tinggi laju pembangunan, makin tinggi pula tingkat pemanfaatan sumberdaya alam dan makin besar perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup.

Pemanfaatan sumberdaya perairan diperkirakan akan semakin meningkat di masa-masa mendatang dalam menunjang pembangunan ekonomi nasional. Adanya kecenderungan tersebut sejalan dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,8% per tahun maka pada tahun 2010 penduduk Indonesia akan mencapai 250 juta orang. Hal ini akan mendorong meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan sumberdaya dan jasa lingkunga.

Pemanfaatan kawasan sumberdaya perairan darat baik itu berupa sungai, danau, situ, rawa dan lain-lain membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbasis ekologis mengingat sangat beragamnya kondisi dan pemanfaatan yang ada. Pengelolaan sumberdaya perairan darat dilakukan secara terpadu, yaitu suatu pendekatan pengelolaan wilayah perairan yang melibatkan dua atau lebih ekosistem mulai dari hulu sampai ke hilir, sumberdaya, dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu guna mencapai pemanfaatan dan penyelamatan perairan secara berkelanjutan.

Sekarang ini aktivitas perikanan tangkap mendominasi pembangunan perikanan nasional. Secara politik, kondisi ini memposisikan perikanan darat/perairan umum (sungai, situ, danau dan rawa) sebagai kelas dua, maka aktivitas perikanan darat terhamabat. Revitalisasi perikanan hanya mengutamakan pertambakan udang, dan budidaya laut yaitu rumput laut dan ikan karang, padahal perikanan darat memiliki keunggulan dan keunikan tersendiri. Harusnya, pemerintah memberikan porsi yang seimbang antara keduanya. Undang-undang mengenai konservasi perikanan secara umum dijelaskan secara umum dalam Undang-Undang No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

.Perikanan darat memiliki keunggulan dan keunikan dalam pengembangannya yaitu: Pertama, potensinya memiliki varietas/jenis yang bersifat endemik. Contohnya, ikan bilih (Mystacoleuseus padangensis) yang di dunia hanya terdapat Danau Singkarak Sumatera Barat, juga ikan jenis lawat (Leptobarbus hoevanii), baung (Mystus planices), belida (Chitala lopis), dan tangadak (Barbodes schwanenfeldi) di Danau Sentarum Kalimantan Barat dan sungai-sungai pulau Sumatera, nike-nike di Danau Tondano, Sulawesi Utara dan ikan gabus asli (Oxyeleotris heterodon) di Danau Sentani Papua.  Kedua, keberadaan ikan endemik menyatu dengan perilaku/pola hidup masyarakat lokal. Mereka menganggap ikan endemik menjadi bagian kebudayaan dan dikonsumsi secara turun-temurun. Maka mereka juga memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestariannya. Ketiga, secara ekologis dan klimatologi ikan endemik memiliki habitat hidup dan berkembang biak yang khas. Keempat, lahan budi daya perikanan darat yang mengandung jenis ikan endemik belum dimanfaatkan secara optimal. Baru beberapa daerah yang memberdayakan dan memberdayakannya dengan pariwisata misalnya Danau Tondano, Danau Singkarak, Danau Poso dan Danau Sentani. Kelima, jenis ikan endemik harganya mahal karena rasanya unik, khas dan langka sehingga menjadi trade mark tersendiri bagi daerah itu. Enam, Problem Otonomi daerah dalam aspek perikanan dan kelautan tidak hanya dimaknai sebatas kewenangan pengelolaan wilayah laut oleh pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Otonomi daerah juga harus dimaknai sebagai upaya mengelola dan mengembangkan perikanan darat utamanya ikan endemik yang terancam punah.

  1. 2. Tujuan

Untuk menyelamatkan perikanan darat dari segala permasalahan yang mengacu kepada undang-undang yang berlaku.

BAB II

PELAKSANAAN KONSERVASI

Potensi sumberdaya perairan darat, secara umum dapat dikelompokkan atas tiga kategori, yaitu potensi sumberdaya dapat pulih (renewable resources) meliputi perikanan perangkap, budidaya (sungai, kolam, danau, waduk, tambak dll), potensi sumberdaya tidak pulih (non-renewable resources) dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) seperti pariwisata, rekreasi dan transportasi.

Salah satu potensi sumberdaya dapat pulih dari sumberdaya perairan darat adalah perikanan darat. Potensi perikanan umum di Indonesia cukup besar, yaitu sekitar 3,6juta metric ton per tahun. Peluang pengembangan perikanan umum masih dimungkinkan dengan melihat karakteristik ekologis perairan tersebut. Air juga merupakan sumberdaya yang dapat pulih karena keberadaan yang tetap di alam berdasarkan siklus hidrologis.

Potensi sumberdaya tidak dapat pulih terdiri dari berbagai jenis bahan-bahan di daerah sungai maupun daerah rawa. Potensi lainnya yang memiliki nilai strategis adalah jasa-jasa lingkungan seperti pariwisata, kawasan rekreasi dan transportasi air. Aktivitas pariwisata di berbagai kawasan perairan darat seperti danau yang memiliki keunikan dan keindahan alam telah banyak dikenal dan dikunjungi oleh wisatawan nusantara dan mancanegara. Kekayaan budaya, flora dan fauna, ekosistem dan gejala alam merupakan daya tarik bagi wisatawan. Pemasukan dari pariwisata memberikan sumbangan kepada perekonomian baik local maupun nasional dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat termasuk penduduk disekitar lokasi tersebut.

Perairan darat memegang peranan penting dalam bidang transportasi air yang menghubungkan berbagai tempat. Banyak daerah-daerah yang sulit dicapai melalui darat sehingga perairan sungai dan danau dapat digunakan sebagai sarana transportasi. Aktivitas transportasi selain untuk penumpang juga untuk pengangkut barang, serta sarana untuk mengangkut hasil hutan (misalnya kayu). Dari sisi ekonomi dengan meningkatnya lalu lintas kapal, maka akan memnerikan pendapatan baik untuk masyarakat maupun pemda setempat dalam bentuk penerimaan pajak dan biaya administrasi. Namun di sisi lain lalu lintas kapal berpotensi menyebabkan pencemaran.

Melindungi sumber genetik plasmah nutfah dan mengembangkan budidaya perikanan darat berbasis ikan endemik memerlukan langkah yang strategis untuk membangun paradigma baru dan merevitalisasi kebijakan, diantaranya yaitu:

  • Pertama, mengembangkan riset pemuliaan genetik ikan endemik. Hasil riset ini akan melahirkan bank genetik ikan endemik Indonesia, sekaligus melindungi plasma nutfahnya. Sesuai dengan Undang-Undang No.31 tentang perikanan pada pasal 1 ayat 8 “Konservasi Sumber Daya Ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan.”
  • Kedua, mengembangkan pusat pembudidayaan ikan air tawar endemik yang mampu menyediakan bibit/benih secara massal baik untuk budi daya sungai maupun danau atau situ. Pusat-pusat ini dibangun daerah-daerah yang memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri.
  • Ketiga, menerbitkan perangkat undang-undang sumberdaya genetik untuk menangkal pihak asing melakukan bio piracy terhadap komoditas endemik khas Indonesia. Hukum yang tersedia ialah Keppres No. 43 Tahun 1978 yang menyatakan bahwa jenis ikan yang dilindungi di pulau Kalimantan dan Sumatera adalah arwana Super Red, Golden Red, Banjar Red, arwana Green (hijau) yang ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum dan Sungai Kapuas.
  • Keempat, melestarikan lingkungan kawasan perairan umum (daerah aliran sungai, danau, situ) dan tangkapan air yang mampu menjamin ketersediaan air tawar dan mencegah sedimentasi maupun pencemaran air (diprioritaskan bagi kawasan perairan umum yang sudah memiliki sumber daya ikan endemik dan terancam punah).
  • Kelima, mengembangkan alat tangkap yang ramah lingkungan dari segi jenis, ukuran, maupun variannya. Akan lebih baik menggunakan alat tangkap yang hanya menyeleksi ikan-ikan endemik yang masuk kategori layak konsumsi dan jual, sesuai dengan Undang-Undang No.1 ayat 6, 7, dan 8 tentang alat penangkap ikan.
  • Keenam, menyeleksi introduksi ikan–ikan non-endemik yang bersifat predator, kompetitor dan pembawa penyakit yang nantinya mengancam kelangsungan hidup ikan endemik.
  • Ketujuh, menyeragamkan pangan berbasis ikan endemik, contohnya fillet, nugget, bakso ikan dan kerupuk ikan.
  • Kedelapan, memberdayakan kelembagaan lokal dan kearifan masyarakat dalam membudidayakan ikan-ikan endemik.

BAB III

KENDALA

Salah satu tahapan penting yang diperlukan dalam penyusunan rencana pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perairan adalah identifikasi masalah yang mengemuka sebagai dampak kegiatan pembangunan. Masalah utama tersebut adalah masalah kualitas lingkungan dan sumberdaya alam serta jasa-jasa lingkungan. Masalah kualitas lingkungan dan sumberdaya perairan darat dicirikan oleh adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu habitat atau sumberdaya alam sebagai dampak berbagai kegiatan pembangunan. Berbagai masalah yang mengancam keberlanjutan budidaya ikan endemik dan kelestariannya, yaitu:

  • Sedimentasi dan Pencemaran

Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan di daerah tangkapan air untuk pertaniaan, pertambangan dan pengembangan kota merupakan sumber beban sedimen dan pencemaran perairan sungai, danau, waduk dan situ. Adanya penebangan hutan dan penambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS) telah menimbulkan sedimentasi serius di beberapa daerah perairan darat hingga ke muara dan perairan pesisir. Proses sedimentasi yang disebabkan oleh limpasan lumpur dari aktivitas pertanian di tepi danau menyebabkan danau semakin dangkal. Juga, pembabatan hutan di hulu menyebabkan sungai mengalami pendangkalan. Otomatis proses sedimentasi yang semakin bertambah setiap tahunnya mengancam hilangnya habitat ikan endemik. Di Sungai Mahakam akibat sedimentasi sudah sulit mendapatkan ikan baung dan lais. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan yang menimbulkan kekeruhan air juga menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Pembukaan lahan atas sebagai bagian dari kegiatan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik limbah padat maupun cair yang masuk keperairan. Selain itu penggunaan pupuk dan pestisida pada lahan pertanian akan terbawa masuk ke dalam perairan yang menimbulkan penurunan kualitas air. Hal serupa akan terjadi akibat pembabatan hutan di hulu sungai, tepi danau dan daerah tangkapan air. Penurunan populasi ikan endemik di sungai, danau maupun lubuk-lubuk di Kalimantan dan Sumatera bersumber dari aktivitas pertanian dan pembabatan hutan. Sesuai dengan Undang-Undang No.1 ayat 12-16 tentang pencemaran dan kerusakan sumberdaya perairan.

  • Keanekaragaman Hayati

Peranan keanekaragaman hayati yang sangat berharga ialah penyimpanan gen yang mengandung sifat keturunan dalam tubuhnya. Fungsi keanekaragaman hayati yang juga amat penting adalah menjaga anah (domain) stabilitas ekosistem. Pada saat ini ancaman terhadap keanekaragaman hayati disebabkan masalah pencemaran, perubahan habitat dan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya hayati sehingga diperkirakan dapat merubah struktur ekologi komunitas biota bahkan dapat menurunkan keanekaragaman hayati perairan. Pengamatan di Citarum dan Ciliwung menunjukkan bahwa di daerah yang tercemar berat limbah organic, susunan hayatinya didominasi oleh ikan sapu-sapu (Hyposarcus pardalis). Eksploitasi berlebihan juga terjadi pada tahun1997 yang menyebutkan stok ikan Bilih mencapai 542,56 ton dan yang telah dieksploitasi sebesar 416,90 ton (77,84%). Ini menggambarkan sumberdaya ikan bilih sudah mengalami tangkap lebih.

  • Pengembangan Perikanan Darat

Salah satu isu pengembangan perikanan darat adalah pengembangan perikanan budidaya di perairan umum seperti waduk dan danau. Perairan waduk dan danau di Indonesia mencapai luas 2,1juta ha berpotensi untuk budidaya dengan teknologi budidaya ikan dalam karamba jaring apung (KJA) yang dapat mencapai 800ton ikan/hari. Penyediaan pakan ikan budidaya mengancam kelestarian ikan endemik. Pengembangan budidaya keramba mengancam ikan endemik Danau Sentarum karena pakannya diambil dari ikan–ikan kecil di danau ini. Permasalahan yang timbul umumnya disebabkan penerapan budidaya KJA yang tidak berwawasan lingkungan sehingga mengakibatkan penurunan kualitas air bahkan kematian ikan secara massal. Permasalahan ini mengakibatkan pemanfaatan perairan bagi kegiatan lain seperti pariwisata juga terganggu. Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkunganenjadi masalah seperti pada kasus yang terjadi di Danau Sentarum, Kalimantan Barat, yakni adanya penggunaan bubu warin (alat tangkap berukuran mata jaring < 0,5 cm sejak tahun 2000) menyebabkan turunnya populasi ikan di daerah ini. Sesuai dengan Undang-Undang No.3 pasal 3 ayat 1dan 2 tentang pengelolaan sumberdaya ikan.

  • Banjir dan Kekeringan

Wilayah perairan darat menyediakan sumberdaya alam yang produktif antara lain sebagai sumber air baku untuk minum dan kebutuhan sehari-hari. Air merupakan bagian yang sangat esensial dalam kehidupan. Kebutuhan air tidak hanya menyangkut kuantitas namun juga kualitas. Jumlah air yang tersedia dan kualitasnya sangat berkaitan dengan iklim terutama curah hujan, hutan, dan aktivitas manusia. Masalah banjir dan kekeringan telah menjadi masalah yang rutin yang terjadi setiap tahun di seluruh Indonesia. Konversi wilayah perairan darat seperti situ, bantaran sungai dan pelurusan sungai menyebabkan berkurangnya tempat-tempat resapan air. Akibatnya masalah banjir dan kekeringan tidak kunjung teratasi.

BAB IV

ANALISIS PELAKSANAAN DAN PEMECAHAN MASALAH

Pemanfaatan wilayah perairan darat secara terpadu memiliki pengertian bahwa pemanfataan sumberdaya alam dilakukan melalui penilaian secara menyeluruh yang diawali dengan identifikasi karakteristik komponen penyusun ekosistem, pengkajian masalah, kendala dan penyusunan tujuan dan sasaran, kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatan guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Perencanaan dan pemanfaatan dilakukan secara terpadu dar berbagai sektor, dinamis, mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi-budaya serta aspirasi masyarakat pengguna, memperhatikan konflik kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada.

Keterpaduan dalam perencanaan dan pemanfaaatan wilayah perairan darat ini mencakup 4 aspek, yaitu:

  1. Keterpaduan Wilayah/Ekologis

Pengelolaan suatu wilayah ekologis harus dilihat secara menyeluruh karena antara wilayah-wilayah yang berbatasan akan saling mempengaruhi satu sama lain dan membentuk satu kesatuan ekologis. Berbagai dampak lingkungan yang terjadi pada kawasan perairan darat merupakan akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembangunan yang dilakukan di daratan. Pada ekosistem danau atau reservoir, daerah peralihan litoral berperan sebagai buffer dan pengatur proses biogeokimia dan interaksi biologi pada berbagai tingkatan. Upaya pemanfaatan lingkungan darat dan perairan sebaiknya mengikutsertakan daerah ekoton secara terpadu agar peranan potensial baik lingkungan darat, perairan dan zona peralihan kedua ekosistem tersebut dapat terus berlangsung dari generasi ke generasi. Sesuai dengan Undang-Undang No.2 Pasal 2 tentang wilayah perikanan Indonesia.

  • Keterpaduan Sektor

Agar pengelolaan sumberdaya alam di kawasan perairan darat dapat dilakukan secara optimal dan berkesinambungan, maka dalam perencanaan pemanfaatan harus mengintegrasikan semua kepentingan sektoral. Pengelolaan wilayah perairan daratyang bersifat sektoral pada dasarnya berkaitan hanya dengan satu jenis sumberdaya atau ekosistem untuk memenuhi tujuan tertentu (sektoral), seperti perikanan, pariwisata, pertambangan, industri, pemukiman, perhubungan dan sebagainya. Dalam pengelolaan secara sektoral, dampak ”cross-sectoral” atau ”cross-regional” seringkali terabaikan. Akibatnya, model pengelolaan sektoral akan menimbulkan berbagai dampak yang dapat merusak lingkungan dan juga akan mematikan sektor lain. Fenomena permasalahan di Danau Maninjau merupakan salah satu contoh dari pembangunan sektoral, dimana sektor perikanan mempengaruhi sektor pariwisata apabila penanganan dan pemanfaatan budidaya perikanan tidak dilakukan secara tepat dan benar.

  • Keterpaduan Disiplin Ilmu

Wilayah perairan darat memiliki sifat dan karakteristik yang unik dan spesifik, baik sifat dan karakteristik ekosistem maupun sifat dan karakteristik sosial budaya masyarakat disekitarnya. Dengan dinamika perairan darat yang khas, dibutuhkan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Secara umum, keterpaduan disiplin ilmu dalam pengelolaan ekosistem dan sumberdaya perairan darat adalah ilmu-ilmu limnologi, keteknikan, ekonomi, hukum dan sosiologi. Salah satu contoh keterpaduan keilmuan yang merupakan paradigma baru dalam pemanfaatan sumberdaya perairan secara berkelanjutan adalah ekohidrologi. Ekohidrologi adalah ilmu yang mengkaji proses-proses hidrologi dan keterkaitannya dengan biologi dalam skala spasial dan temporal. Sesuai dengan Undang-Undang No.3 Pasal 8 ayat1 dan 2 tentang kepentingan ilmu pengetahuan.

  • Keterpaduan Stakeholder

Faktor yang sangat berperan dalam pengelolaan lingkungan adalah faktor manusia. Segenap keterpaduan di atas, akan berhasil diterapkan apabila ditunjang oleh keterpaduan dari pelaku dan atau pengelola pembangunan di wilayah perairan darat. Pelaku pembangunan dan pengelola sumberdaya alam perairan darat antara lain terdiri dari pemerintah (pusat dan daerah), masyarakat, swasta/investor dan juga LSM yang masing-masing memiliki kepentingan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam. Peranan mereka dalam pengelolaan lingkungan perlu dioptimalkan dengan bekal pengetahuan yang benar mengenai masalah lingkungan yang ada di sekitar mereka.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Permasalahan teknis yang terjadi di lapang adalah secara umum eksploitasi yang berlebihan terhadap suatu spesies, sedimentasi dan pencemaran yang diakibatkan oleh sektor pertanian. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pengawasan yang menyeluruh, mengadakan sosialisasi tentang peraturan perundang-undangan tersebut kepada masyarakat, memberikan sangsi yang tegas kepada siapapun yang melanggar peraturan yang berlaku, dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat terhadap cara pengelolaan perikanan darat.

Dari permasalahan yang telah kami analisis, diharapkan peran serta berbagai elemen masyarakat yang terkait untuk dapat menyadari pentingnya pemanfaatan sumberdaya perairan darat serta adanya pengawasan dari pihak terkait yang sesuai dengan Undang-undang Perikanan No.31 tahun 2004. Selain itu,yang paling penting adalah perlu adanya kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta sebagai pengelola dalam melakukan konservasi sumberdaya perikanan darat.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Haryani, Gadis Sri. 1996. Tinjauan Ekologis dalam Pengelolaan Danau, Alami, Jurnal Air, Lahan, Lingkungan dan Mitigasi Bencana, hal.9-12. Jakarta.

Soemarwoto, Otto. 2001. Atur Diri Sendiri Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

http://arwanaku.wordpress.com/2008/06/12/malaysia-patenkan-ikan-arwana

http://www.trobos.com

http://syariffauzi.wordpress.com/2009/02/25/ikan-gabus-haruansnakeheadchanna-striata