v  Terong

Tanaman terong pada saat itu masih dalam fase vegetatif, sehingga belum terlalu banyak hama yang ditemukan. Hanya terdapat beberapa hama saja, seperti:

  1. Chrysomelidae (Ordo: Coleoptera)

Tubuh kumbang berbentuk kubah dan berwarna hitam mengkilap dengan bagian kepala dan tepi sayap depan berwarna kecoklatan. Kumbang dewasa aktif pada pagi dan sore hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di celah-celah tanah. Kumbang dewasa makan daun, pucuk tanaman, bunga, dan menyebabkab nekrotik pada daun.

  1. Kutu Daun (Aphididae; Coleoptera)

Tubuh kutu daun ini berukuran sangat kecil, lunak dan berwarna hijau agak kekuning-kuningan. Serangga ini menyukai bagian-bagian muda dari tanaman inangnya. Serangan pada pucuk tanaman muda menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Hama ini juga bertindak sebagai vektor (serangga penular) berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus.

  1. Wereng Hijau

Wereng Hijau ini dapat merusak tanaman dengan jalan menghisap atau biasa dikenal dengan gejala nekrotik. Wereng betina meletakkan telur pada jaringan daun muda. Biasanya telur diletakkan berkelompok antara 8-16butir dan banyaknya bisa mencapai 200-300butir, bergantung pada lingkungan dan spesiesnya. Telur menetas 6-7hari. Nimfa mengalami 5instar dan lamanya stadium nimfa 16-18hari. Nimfa dan dewasa menghisap cairan cairan makanan dari jaringan xylem pada helai daun. Stadium nimfa dapat juga merupakan vector penyakit virus.

  1. Telur Lepidoptera

Pada tanaman terong ditemukan telur Lepidoptera, namun belum diketahui identitas dari telur tersebut karena disekitar tanaman tidak ditemukan tanda-tanda/gejala dari ordo Lepidoptera tersebut.

  1. Liriomyza

Invasi Liriomyza spp. ke dalam ekosistem sayuran di Indonesia telah menambah beban ekonomi para petani kentang khusunya dan petani sayuran umumnya. Pada awalnya Liriomyza spp. bukan hama penting karena populasinya sealalu dapat dikendalikan oleh musuh alaminya. Namun pada awal tahun 1970-an lalat ini berubah menjadi sangat merugikan akibat musuh alaminya banyak terbunuh oleh insektisida. Di Indonesia hama ini pertama kali ditemukan tahun 1994 di daerah Cisarua Bogor.  Liriomyza spp menyebabkan kerusakan dengan cara menggorok daun. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 75% pada beberapa tanaman.

v  Bawang Daun

  1. Larva Spodoptera exigua

Serangga dewasa berupa ngengat abu-abu, meletakkan telur pada daun secara berkelompok.  Setiap kelompok telur dari 30-700butir yang ditutupi oleh bulu-bulu berwarna merah kecoklatan. Telur akan menetas setelah 3hari. Ulat yang baru keluar dari telur berkelompok di permukaan daun dan makan epidermis daun atau biasa dikenal dengan gejala gerigitan.

  1. Kepinding Tanah (Pentatomidae; Hemiptera)

Serangga ini menyukai tempat lembab dan menjadi tidak aktif pada cuaca kering/panas atau cuaca dingin. Serangga dewasa makan daun atau seludang daun. Pada tanaman yang lebih tua, kepinding tanah makan seludang daun dekat pangkal batang. Telurnya berderet-deret dalam 2-4 baris pada permukaan daun, atau pada seludang dan pada rumput-rumput. Telur yang baru keluar berwarna bersih, tetapi kemudian berubah menjadi jingga pada waktunya menetas, yaitu 6 hari kemudian. Serangga muda yang baru ditetaskan mula-mula makan daun dekat telur dan kemudian pindah ke pangkal batang. Itik suka makan kerpinding tanah, karena itu itik dapat mengurangi populasi kepinding tanah.

v  Padi

Pada tanaman padi banyak sekali ditemukan hama karena terdapat 2lahan yaitu fase vegetative dan fase generatif. Sehingga dapat dibedakan hama yang menyerang pada fase tersebut.

  1. Wereng Hijau

Peran wereng hijau (green leafhopper) dalam system pertanaman padi menjadi penting oleh karena wereng hijau merupakan vektor penyakit tungro, yang merupakan salah satu penyakit virus terpenting di Indonesia. Kemampuan wereng hijau sebagai penghambat dalam sistem pertanian pada padi sangat tergantung pada penyakit virus tungro. Sebagai hama, wereng hijau banyak ditemukan pada system sawah irigasi teknis, ekosistem tadah hujan, tetapi tidak lazim pada ekosistem padi gogo. Wereng hijau menghisap cairan dari dalam daun bagian pinggir, tidak meyukai pelepah, ataupun daun-daun bagian tengah. Wereng hijau menyebabkan daun-daun padi berwarna kuning sampai kuning oranye, penurunan jumlah anakan, dan pertumbuhan tanaman yang terhambat (memendek). Pemupukan unsur nitrogen yang tinggi sangat memicu perkembangan wereng hijau.

  1. Pelipat Daun/Hama Putih Palsu

Hama putih palsu jarang menjadi hama utama padi. Serangannya menjadi berarti bila kerusakan pada daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan  mencapai >50%. Kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Pada mulanya larva tidak menyebabkan daun menjadi terlipat atau tergulung, tetapi bila larva tumbuh menjadi besar pinggiran daun yang satu dihubungkan dengan yang lain sehingga membentuk sebuah tabung. Larva tersebut makan seluruh bagian dalam daun yang menggulung, kecuali kulit luar sehingga menyebabkan goresan-goresan putih yang khas. Kepompong terjadi di dalam gulungan daun dan kepompong ini terbungkus oleh tenunan seperti sutra. Penyakit-penyakit daun terutama penyakit bakteri daun bergaris sering ditemui dimulai dari pinggiran yang rusak karena penggulung atau pelipat daun. Tanda pertama adanya infestasi hama putih palsu adalah kehadiran ngengat berwarna kuning coklat yang memiliki 3buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga. Untuk mengendalikan hama putih palsu:

  • Upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar pertanaman tumbuh secara baik, sehat, dan seragam
  • Pergunakan insektisida (bila diperlukan) berbahan aktif fipronil atau karbofuran
  • Jangan menggunakan insektisida sampai tanaman berumur 30hari setelah tanam pindah atau 40hari sesudah sebar benih
  • Tanaman padi yang terserang pada fase ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.
  1. Wereng Coklat

Penggerek batang (wereng coklat) termasuk hama paling penting pada tanaman padi yang sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Hama ini dapat merusak pada semua fase tumbuh, baik pada saat pembibitan, fase anakan, maupun fase berbunga. Bila serangan terjadi pada pembibitan sampai fase anakan, hama ini disebut sundep dan jika terjadi pada saat berbunga disebut beluk. Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan penggerek batang. Oleh karena itu gejala serangan hama ini perlu diwaspadai, terutama pada pertanaman musim hujan. Waktu tanam yang tepat, merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman pada bulan Desember-Januari, karena suhu, kelembaban dan curah hujan pada saat itu sangat cocok bagi perkembangan penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam, sangat sensitif terhadap hama ini.

  1. Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai masak susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa. Hama ini dapat dikendalikan melalui beberapa langkah, yaitu:

  • Mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada disekitar pertanaman
  • Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam
  • Menangkap walang sangit dengan menggunakan jarring sebelum stadia pembungaan
  • Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam
  • Menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.
  1. Telur Keong Mas

Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman. Bekas potongan daun dan batang yang diserangnya terlihat mengambang. Waktu kritis untuk mengendalikan keong mas adalah pada saat 10hari setelah tanam pindah, atau 21hari setelah sebar benih (benih basah). Setelah itu laju pertumbuhan tanaman lebih besar daripada laju kerusakan oleh keong mas. Bila terjadi invasi keong mas, sawah perlu segera dikeringkan, karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air.

v  Jambu Biji

  1. Ulat Penggulung Daun

Ulat ini membentuk gulungan daun dengan merekatkan daun yang satu dengan yang lainnya dari sisi dalam dengan zat perekat yang dihasilkannya. Di dalam gulungan, ulat memakan daun, sehingga akhirnya tinggal tulang daunnya saja yang tersisa. Serangan hama ini terlihat dengan daun-daun yang tergulung menjadi satu. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang berwarna coklat hitam.

Comments are closed.